Bisnis Souvenir


Bagi perusahaan, memberikan suvenir berupa mug boleh jadi merupakan promosi yang murah meriah, cepat, dan efisien ketimbang berpromosi lewat iklan atau media lain. Permintaan yang datang bukan hanya dari korporat tapi juga dari konsumen individu. Berminat menggelutinya?

Aliran Laba dari Mug Keramik

BAGI penggila teh dan kopi, rasa dan aroma kedua minuman itu kian mantap bila Anda reguk dari mug. Mug” Itu, lo, gelas keramik bergagang khusus untuk minum minuman panas dan hangat.

Belakangan mug bukan hanya teman untuk menyesap kopi, teh, atau minuman apa pun yang jadi kegemaran Anda.

Benda ini sudah bertambah fungsi menjadi suvenir. Anda mungkin pernah menerima suvenir mug yang menempelkan logo sebuah perusahaan.

Bagi perusahaan, memberikan suvenir berupa mug boleh jadi merupakan promosi yang murah meriah, cepat, dan efisien ketimbang berpromosi lewat iklan atau media lain. Dan ini jelas menguak peluang bagi orang-orang yang kreatif.

Permintaan yang datang bukan hanya dari korporat tapi juga dari konsumen individu. Berminat menggelutinya? Simak saja pengalaman dari dua pemain ini:

Muggom

Perusahaan ini sudah menjalankan roda bisnis sejak Desember 2005. Muggom melihat peluang laba dari partai besar lebih menggiurkan. Makanya, “Dari mulai kawinan sampai peluncuran produk mereka banyak yang pesan ke kami,” ungkap Victor, dari bagian Pengembangan Bisnis Muggom.

Ia mengakui, bisnis mug yang mengandalkan pesanan partai besar ini memang tidak selalu ada. Maklum, permintaan biasanya datang dari perusahaan atau institusi yang tengah berpromosi. Atau bisa juga dari perorangan, namun membutuhkan suvenir dalam jumlah besar. Seperti untuk suvenir pernikahan.

Bagi produsen, mengerjakan pesanan dalam jumlah besar bisa menghemat ongkos produksi, sekaligus menjaring duit yang lebih besar. “Ongkos produksinya bisa jauh lebih murah,” ungkap Victor. Muggom mematok minimal sekali pesanan sebanyak 250 mug.

Bisnis yang telah berjalan memasuki tahun keempat ini memang tak pernah menerima pesanan dalam jumlah kecil. Muggom menilai ongkos produksinya lebih mahal kalau menerima order ketengan. Lantaran ongkos produksi dapat ditekan, otomatis harga jual mug bisa lebih murah, berkisar Rp 17.500-Rp 30.000, tergantung gambar dan ukuran mug.

Dari kisaran harga itu, Victor mengaku perusahaannya bisa meraup keuntungan hingga 50%. Tak aneh kalau Muggom sampai mempekerjakan tujuh orang pegawai untuk memenuhi semua pesanan yang masuk.

Dulu, saat memulai bisnis gelas keramik ini, Muggom membutuhkan modal awal sebesar Rp 125 juta. Duit itu untuk membeli peralatan produksi, tanah, serta bangunan yang hingga kini dipakai sebagai tempat produksi.

Dana tersebut masih tergolong murah karena lokasi produksi Muggom berada di Gunung Putri, Bogor. “Pemilihan lokasi ini sekaligus meminimalkan biaya produksi karena upah karyawannya juga lebih murah,” kata Victor.

Berada cukup jauh dari pusat kota tidak menyulitkan Muggom mendapatkan pesanan. Dengan memanfaatkan jaringan internet, Victor mulai memperkenalkan produknya kepada para pelanggan dan calon pelanggan.

Alhasil, pelanggan yang datang tidak hanya dari konsumen lokal, tapi sudah merambah konsumen dari Singapura dan Malaysia. Hingga kini, hampir 96% pesanan mug yang datang ke Muggom berasal dari dunia maya dan berasal dari pelanggan lokal.

Dengan mengandalkan pelanggan lokal, dalam sebulan Muggom bisa mendapatkan 25 pesanan. Adapun rata-rata untuk sekali pemesanan membutuhkan sekitar 300 mug. Itu artinya, dalam sebulan ada sekitar 7.500 mug terjual.

Kedai Digital

Permintaan dari partai besar yang tak selalu ada membuat Kedai Digital lebih fokus mengincar konsumen individu. Memang ongkos produksinya lebih mahal, tapi persentase untung yang bisa dinikmati juga lebih besar, lo.

Bisnis yang telah berjalan sejak 28 Maret 2005 ini terinspirasi dari pernak-pernik pribadi para artis yang banyak diperebutkan penggemarnya. Sang pemilik Kedai Digital, Saptuari Sugiharto, pun punya gagasan membuat pernak-pernik yang mengingatkan seseorang atau momen tertentu. Makanya hadirlah mug-mug cantik yang dinding luarnya dihiasi dengan desain sesuai dengan keinginan konsumen.

Sejauh ini, kebanyakan pelanggan memasang foto mereka di mug pesanan. “Kalau mereka belum punya desain tertentu, kami juga menyediakan desain sendiri. Jadi pelanggan tinggal memilih saja,” kata Zusuf Vani Aljuwaeni, dari Bagian Pemasaran Kedai Digital.

Ternyata minat masyarakat sangat besar. Dalam waktu singkat, perusahaan asal Yogyakarta tersebut sukses membuka sekitar 20 outlet. Tak hanya di Kota Gudeg, tapi sudah menyebar hingga ke Jawa Timur, Sumatra, dan Kalimantan.

Asyiknya, lantaran mengincar pangsa pasar individu, modal awal pendirian Kedai Digital tidak sebesar Muggom. Dengan duit sekitar Rp 28 juta, empat tahun lalu Saptu pun membeli peralatan serta menyewa sepetak ruangan berukuran 8 m x 4 m di Kawasan Demangan, Yogyakarta.

Karena dulu pemainnya masih terbatas, seluruh modal tersebut sudah bisa kembali dalam tempo sekitar dua tahun. Maklum, dalam sebulan pesanan mug yang datang bisa mencapai 350 buah dengan harga per mug sebesar Rp 25.000. “Dari satu mug, kami bisa mengantongi margin sekitar Rp 10.000,” kata Vani.

Kalau mau keuntungan lebih besar, tentu produsen harus pandai-pandai membetot minat konsumen. Salah satunya, tentu dengan menawarkan desain yang lebih kreatif dan aduhai dipandang mata.

Kios Digital
Usaha ini terletak di Samarinda, yang baru dirintis oleh pemiliknya sekitar 1 tahun yang lalu.
Jika ingin memesan silahkan buka www.kios-digital.com

Sumber : http://ariza.connecti.biz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: